Senin, 23 Maret 2020

ISLAM DAN LINGKUNGAN HIDUP


KERUSAKAN LINGKUNGAN

A.    Pendahuluan
Sejak semula Al-Qur'an telah menyatakan bahwa bumi dan seisinya diciptakan untuk manusia. Artinya, bumi merupakan lingkungan yang disediakan oleh Allah untuk manusia. Di lingkungan inilah manusia hidup, baik sebagai tempat tinggal, mengembangkan keturunan, bahkan bersenang-senang sampai batas waktu yang telah ditentukan. Di sisi lain, bumi sebagai lingkungan hidup manusia juga merupakan satu kesatuan dari jalinan alam raya yang jauh lebih besar, yang dinyatakan oleh Al-Qur'an tercipta atas asas keseimbangan. Oleh karena itu, posisi manusia menjadi cukup penting dan strategis dalam rangka memelihara lingkungan hidupnya demi kepentingan yang lebih besar, yaitu menjaga dan memelihara keseimbangan alam raya tersebut.
Dalam kaitan ini, Al-Qur'an menyatakan bahwa keberadaan manusia di bumi adalah sebagai khalīfah. Term khalīfah yang makna hakikinya adalah “mengganti orang lain dalam suatu pekerjaan”, yang dimaksudkan adalah bahwa manusia telah dijadikan sebagai wakil Allah di muka bumi untuk mengatur, merawat, dan memelihara bumi ini sebagaimana yang dikehendaki oleh-Nya. Tugas ini dibebankan kepada manusia, karena  manusialah satu-satunya makhluk Allah yang layak untuk mengemban amanat ini.
B.     Term-term yang Terkait dengan Kerusakan Lingkungan dalam Al-Qur'an
            Di antara term-term dalam Al-Qur'an yang terkait langsung dengan kerusakan lingkungan adalah term fasād. Term fasād dengan seluruh kata jadiannya di dalam Al-Qur'an terulang sebanyak 50 kali, yang berarti  ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻋﻦ ﺍﻹﻋﺘﺪﺍﻝ (sesuatu yang keluar dari keseimbangan). Sementara cakupan makna term fasād ternyata cukup luas, yaitu menyangkut jiwa/rohani, badan /fisik, dan apa saja yang menyimpang dari keseimbangan/yang semestinya.
Term fasād adalah antonim daris salah, yang secara umum, keduanya terkait dengan sesuatu yang manfaat dan tidak manfaat. Artinya, apa saja yang tidak membawa manfaat baik secara individu maupun sosial masuk kategori fasād, begitu juga sebaliknya, apa pun yang manfaat masuk kategori fasad.

Term fasād di dalam Al-Qur'an dapat dibedakan menjadi:
1.      Perilaku menyimpang dan tidak bermanfaat Sebagaimana dipahami dalam firman Allah berikut ini: Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Janganlah berbuat kerusakan di bumi!" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan." (al-Baqarah/2: 11) Yang dimaksud dengan fasād di sini bukan berarti kerusakan benda, melainkan perilaku menyimpang, seperti menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam. Paling tidak term fasād di sini memiliki tiga pengertian yaitu: memperlihatkan perbuatan maksiat, persekutuan antara orang-orang munafik dengan orang-orang kafir dan sikap-sikap kemunafikan. Makna inilah yang terbanyak dari term fasād.
2.      Ketidakteraturan/berantakan  Dapat dilihat pada firman Allah: Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan. (alAnbiyā'/21: 22) Term fasad di sini berarti tidak teratur. Artinya, jika di alam raya terdapat Tuhan selain Allah, niscaya tidak akan teratur. Padahal perjalanan matahari, bulan, bintang, dan miliyaran planet semua berjalan secara teratur tidak tabrakan, maka pengaturnya pasti satu, itulah Allah. Sehingga, ayat ini menunjukkan kemustahilan adanya Tuhan lebih dari satu.
3.      Perilaku destruktif (merusak) 
Dia (Balqis) berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat.” (an-Naml/27: 34) Kata ifsād di sini berarti merusak apa saja yang ada, baik benda ataupun orang, baik dengan membakar, merobohkan, maupun menjadikan mereka tidak berdaya dan kehilangan kemuliaan.
4.      Menelantarkan atau tidak peduli Tentang dunia dan akhirat. Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, "Memperbaiki keadaan mereka adalah baik!" Dan jika kamu mempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia datangkan kesulitan kepadamu. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (al-Baqarah/2: 220) Ayat di atas berbicara tentang memerlakukan anak yatim. Bahwa seseorang harus memerlakukan anak yatim secara baik demi masa depannya. Inilah yang dimaksud dengan term muslih. Dengan demikian kata mufsid, sebagai kebalikan dari mufsid berarti orang yang tidak peduli terhadap nasib anak yatim, baik menelantarkannya maupun memanfaatkannya untuk kepentingan dirinya sendiri.
5.      Kerusakan lingkungan Dalam hal ini bisa dipahami dari firman Allah ini: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (ar-Rūm/30: 40) Terkait dengan kerusakan di darat dan laut, terdapat beberapa pendapat ulama antara lain: banjir besar, musim paceklik, kekurangan air,10 kematian sia-sia, kebakaran, tenggelam, kezaliman, perilaku-perilaku sesat, gagal panen, krisis ekonomi.
Dari penjelasan secara deskriptif tentang term-term fasad, halaka, dan sa‘a, bisa dijelaskan sebagai berikut; untuk term fasad, jika berbentuk masdar dan berdiri sendiri, maka menunjukkan kerusakan yang bersifat hissi/fisik, seperti banjir, pencemaran udara, dan lain-lain; dan jika berupa kata kerja (fi‘il) atau bentuk masdar namun sebelumnya ada kalimat fi‘il, maka yang terbanyak adalah menunjukkan arti kerusakan yang bersifat non fisik/ma‘nawi, seperti kafir, syirik, munafik, dan semisalnya.
Dengan demikian, bisa dipahami bahwa kerusakan yang bersifat fisik pada hakikatnya merupakan akibat dari kerusakan non fisik atau mental. Argumentasinya, bahwa ayat-ayat yang bisa diidentifikasi sebagai yang menunjukkan makna kerusakan lingkungan juga tidak secara spesifik dinyatakan sebagai akibat langsung dari perilaku manusia, seperti illegal logging, pencemaran udara, dan lainlain. Dari sini, bisa dilihat adanya korelasi positif antara kerusakan lingkungan dengan rusaknya sikap mental atau keyakinan yang menyimpang.
Jika demikian, kerusakan akidah yang dianggap sebagai sebab kerusakan lingkungan, mestinya bukan diukur dari benar atau salahnya akidah seseorang, akan tetapi diukur dari perilakunya. Atau bisa dipahami, bahwa perilaku menyimpang, merusak, dan tidak bermanfaat sebenarnya menjadi cerminan rusaknya mental seseorang. Makanya, Allah mendedikasikan untuk senantiasa menjaga bumi ini jika perilaku penduduknya menceminkan seorang muslih—sebagai antonim dari mufsid—yaitu senantiasa berusaha untuk mengembangkan kebajikan yang bersifat sosial. Dengan kata lain, memiliki dampak secara nyata dalam kehidupan kemanusiaan dan lingkungan hidup secara umum.
C.     Pengertian Bencana Alam & Macam-Macamnya
Indonesia memang tidak terlepas dengan bahayanya bencana alam dikaenakan letaknya. Bencana alam dalam bentuk apapun tentunya akan berakibat buruk bagi kita. Masalah ini sudah menjadi topik yang patut diwaspadai pada jama ini, karena berbagai bencana alam akan terus menerus datang tanpa kita sadari.
Walaupun manusia dapat memprediksi kapan terjadinya bencana, tetapi tidak akan bisa menghentikan bencana itu. Walaupun bisa memperkecil korban jiwa, tetapi kerugian yang diderita amatlah besar. Kita sebagai manusia hanya bisa menghindari, tetapi tidak dapat menghentikan terjadinya bencana alam, sekuat apapun manusia tersebut.
Pengertian/Definisi Bencana Alam
Bencana alam adalah suatu kejadian/peristiwa alam yang dampaknya dapat mengakibatkan populasi manusia terancam. Peristiwa alam tersebut dapat berupa gempa, letusan gunung berapi, banjir, tsunami, tanah longsor, angin topan/angin puting beliung, kebakaran hutan, kekeringan, dan lain-lain.
Walaupun bencana alam tersebut sudah biasa terjadi di Bumi kita ini, tetapi kita tidak bisa menghentikannya, kita hanya dapat memperkecil dampak bencana yang terjadi.
Bencana alam adalah rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam.
Jenis-jenis Bencana Alam
Ø  Bencana alam meteorologi
Bencana alam meteorologi/hidrometeorologi merupakan bencana alam yang berhubungan dengan iklim. Bencana alam ini umumnya tidak terjadi pada suatu tempat yang khusus. Bencana alam bersifat meteorologis paling banyak terjadi diseluruh dunia seperti banjir dan kekeringan. Kekhawatiran terbesar pada masa modernisasi sekarang ini adalah terjadinya pemanasan global.
Ø  Bencana alam geologi
Bencana alam geologi adalah bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti tsunami, gempa bumi, gunung meletus, dan tanah longsor. Contoh bencana alam geologi paling umum adalah gempa bumi, tsunami, gunung meletus dan tanah longsor.
Ø  Bencana alam ekstra-terestial
Bencana alam ekstra-terestial merupakan bencana alam yang terjadi di luar angkasa. Bencana dari luar angkasa adalah datangnya berbagai benda langit seperti asteroid atau gangguan badai matahari. Meskipun dampaknya berukuran kecil tidak berpengaruh besar, asteroid kecil tersebut berjumlah sangat banyak sehingga bisa menimbulkan untuk menabrak bumi.
Macam-macam Bencana Alam
1. Banjir

Banjir adalah bencana alam yang diakibatkan oleh curah hujan yang cukup tinggi dengan tidak diimbangi dengan saluran-saluran pembuangan air yang memadai, sehingga banjir dapat merendam berbagai wilayah-wilayah yang cukup luas.
Pada umumnya banjir terjadi karena luapan sungai yang tidak mampu menghadang derasnya air yang datang sehingga menyebabkan jebolnya sistem perairan disuatu daerah.
Banjir juga diakibatkan oleh manusia itu sendiri karena membuang sampah sembarangan ke saluran-saluran pembuangan air dan menebang pohong-pohon secara liar, pohon bermanfaat sebagai penyerap air dikala datangnya hujan.
2. Gempa Bumi

Gempa bumi adalah guncangan atau getaran yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba lalu menciptakan gelombang seismik. Gempa bumi biasanya disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi).
Gempa bumi diukur dengan menggunakan alat yang bernama Seismometer. Moment Magnitudo adalah skala yang paling umum di mana gempa bumi terjadi untuk seluruh dunia. Skala Rickter adalah skala besarnya lokal 5 magnitude.
Biasanya gempa bumi terjadi pada daerah-daerah yang dekat dengan patahan lempengan bumi. Gempa adalah bencana alam yang tidak dapat diperkirakan, oleh karena itu gempa merupakan bencana alam yang sangat berbahaya. Ada berbagai cara untuk mengurangi kerugian akibat dampak gempa bumi, seperti membangun bangunan yang dapat meredam getaran gempa, memperkuat pondasi bangunan dan masih banyak yang lain.
3. Gunung Meletus

Gunung meletus bisa terjadi karena endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi. Dari letusan-letusan seperti itulah gunung berapi bisa terbentuk. Letusan gunung berapi bisa merenggut korban jiwa dan menghabiskan harta benda yang besar.
Gunung meletus merupakan salah satu bencana alam yang sangat dahsyat karena diakibatkan meningkatnya aktivitas magma yang ada dalam perut bumi. Jika gunung akan meletus maka dapat dideteksi dengan cara melihat aktivitas perkembangannya, mulai dari siaga, waspada, awas dan hingga puncaknya yaitu meletus. Ketika suatu gunung meletus maka akan mengeluarkan berbagai macam material-material yang ada di dalam bumi, mulai dari debu, batu, kerikil, awan panas, kerikil hingga magmanya.
Karena waktu terjadinya gunung meletus dapat diprediksi, maka bisa diberi peringatan kepada warga agar segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. Magma adalah cairan panas yang keluar dari dalam perut bumi dengan suhu yang sangat tinggi, diperkirakan lebih dari 1000 derajat celcius. Magma yang sudah keluar dalam perut bumi disebut lava.
Gunung meletus ternyata berdampak baik bagi masyarakat, karena 1–2 bulan setelah terjadinya bencana tumbuh-tumbuhan menjadi lebih subur, karena debu dan material-material yang dikeluarkan memiliki zat hara yang sangat tinggi.
4. Tsunami

Tsunami secara harfiah berarti “ombak besar di pelabuhan” adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan mendadak/tiba-tiba. Perubahan permukaan laut terjadi karena disebabkan oleh gempa bumi yang berada di bawah laut, letusan gunung berapi di bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di laut.
Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang, tsu berarti pelabuhan, dan nami berarti gelombang. Bencana ini termasuk yang paling berbahaya karena tidak dapat diprediksi kapan terjadinya dan sulit untuk mencegah datangnya tsunami dengna kecepatan tinggi.
5. Tanah longsor

Longsor atau disebut juga gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi yang terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Secara umum longsor bisa terjadi disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu. Faktor pendorong adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi material itu sendiri, sedangkan faktor pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material tersebut.
Bencana longsor terjadi karena setelah hujan yang cukup lebat dan tanah tersebut tidak sama sekali ditumbuhi tanaman maka terjadilah longsor itu. Tanaman berguna untuk menahan tanah-tanah agar tidak mudah longsor atau terseret.
Ada juga bencana longsor yang terjadi secara alami, karena memang tanah yang kurang padat, curah hujan yang cukup tinggi dan kemiringan yang cukup curam.
6. Kebakaran hutan liar

Kebakaran hutan terjadi bisa dikaitkan oleh alam itu sendiri, bisa juga dikaitkan oleh ulah tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Jika kebakaran hutan sampai terjadi maka cukup sulit untuk memadamkannya, karena luasnya daerah yang terbakar dan lokasinya yang jauh dari tempat penanggulangan bencana. Bahaya yang timbul karena kebakaran hutan adalah asap yang dihasilkan dapat merusak pernapasan.
Kebakaran hutan secara liar adalah kebakaran yang terjadi di alam liar. Jika bencana tersebut disebabkan oleh alam itu sendiri, kemungkinan karena petir yang menyambar. Jika ulah manusia, maka bisa dipastikan karena keserakahan manusia dalam membuka lahan tanpa melihat akibat yang ditimbulkan.
7. Angin Topan/Angin puting beliung

Angin puting beliung merupakan angin yang berputar dengan kecepatan yang amat tinggi dan bergerak secara garis lurus dengan durasi maksimal 5 menit. Di Indonesia bencana ini biasa disebut dengan puting beliung atau angin lesus, tetapi jika di Amerika disebut Tornado.
Bencana angin puting beliung belum dapat diprediksi karena teknologi yang kurang memadai. Tetapi jika di Amerika bencana topan sudah dapat diprediksi kapan terjadinya dan dimana tempatnya sehingga dapat menghimbau warga agar segera untuk mengungsi.
8. Kekeringan

Kekeringan adalah keadaan kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam masa yang amat berkepanjangan (berbulan-bulan hingga bertahun-tahun). Biasanya bencana ini terjadi bila suatu wilayah secara terus-menerus mengalami curah hujan di bawah rata-rata. Musim kemarau yang panjang akan menyebabkan kekeringan karena cadangan air tanah akan habis akibat penguapan (evaporasi), transpirasi, ataupun penggunaan manusia yang lainnya.
Bencana ini hampir tiap tahun terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, bencana ini sudah umum terjadi pada negara yang lain di dunia.
D.    Sebab-sebab Terjadinya Kerusakan Lingkungan
Secara umum, terjadinya degradasi lingkungan hidup (LH) ada dua penyebab yaitu penyebab yang bersifat langsung dan tidak langsung. Faktor penyebab yang tidak langsung pada kenyataannya merupakan penyebab yang sangat dominan terhadap kerusakan lingkungan. Artinya rusaknya ekosistem dalam hal ini manusia tidak memiliki peran misalnya gunung meletus, gempa bumi, tsunami, dan lain-lain. Sedangkan yang bersifat langsung terbatas ulah manusia yang terpaksa mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan karena desakan kebutuhan, keserakahan, atau mungkin kekurangsadaran akan pentingnya menjaga lingkungan misalnya menebang hutan secara illegal, membuang sampah sembarangan, membendung aliran sungai sehingga menciut, dan lain-lain.
Namun, jika kita analisis lebih jauh tentang ayat-ayat Al-Qur'an yang terkait dengan alam raya, maka akan ditemukan penjelasan bahwa alam raya ini diciptakan dan diatur oleh Allah atas asas keseimbangan. Perjalanan alam raya selamanya tidak akan menyimpang dari ketetapan yang telah ditentukan. Inilah yang dinyatakan oleh Al-Qur'an sebagai takdir. Bahkan, Al-Qur'an juga menegaskan bahwa di balik keteraturan alam raya, ia ditundukkan (taskhir) untuk kepentingan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan dan juga keinginannya. Misalnya perjalanan matahari, pergantian malam dan siang, turunnya hujan, keberadaan gunung, laut, dan lain-lain. Atau dengan kata lain, ketika Al-Qur'an menjelaskan tentang hujan, pasti disertai dengan menyebutkan manfaatnya; dan memang tidak ada satu ayat pun yang secara tegas menyatakan bahwa hujan akan menyebabkan banjir. Demikian ini, karena hujan merupakan kejadian alamiah biasa, sebagaimana musim kemarau. Justru ia akan membuat tanah menjadi subur. Namun persoalannya akan lain, jika hujan kemudian menyebabkan banjir, sebab itu pasti ada faktor lain.
Begitu juga lautan, matahari, dan lain-lain, semuanya ditundukkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Ilmu pengetahuan mungkin bisa menganalisa sebabsebab terjadinya hujan, tetapi ilmu pengetahuan tidak bisa membatasi atau mengatur vomule air yang diturunkan, agar tidak menyebabkan banjir. Begitu juga tsunami, gunung meletus, gempa bumi, ilmu pengetahuan hanya bisa mempelajari setelah terjadi; atau paling tidak mendeteksi gerakangerakan yang terlihat tidak wajar; ilmu pengetahuan tidak mampu melawan, mencegah, atau memastikan secara matematis melalui hukum sebab akibat kenapa dan kapan bencana alam itu terjadi?
Oleh karenanya, jika terjadi kerusakan alam atau penyimpangan alam dari ketentuan yang ada, termasuk bencanabencana alam yang kita persepsikan sebagai fenomena alam semata, tentunya harus diyakini sebagai akibat dari pebuatan manusia, langsung maupun tidak langsung. Sebab, jika bencana alam dikatakan sebagai “fenomena alam yang terjadi secara alamiah”, justru ini tidak sesuai dengan ketentuan Allah atas alam semesta yang sejak awal telah ditetapkan untuk kepentingan atau ditundukkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Begitu juga, jika bencana alam dikatakan sebagai “takdir Tuhan”, maka hal itu juga tidak sesuai dengan sifat Allah, terutama ar-Rahmān dan ar-Rahim. Sebab Allah tidak mungkin menurunkan bencana apalagi berskala besar dan luas tanpa kesalahan atau penduduknya muslih (perilaku sosialnya baik)

E.     Epilog
Di dalam Al-Qur'an ditemukan sebuah ayat yang menggambarkan akibat yang bersifat fisik dari adanya bencana alam, misalnya firman Allah: Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (tidak ada penghuninya). Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.  (al-hajj/22: 45-46)
Ayat ini sebenarnya memberi informasi tentang akhir perjalanan suatu kaum yang zalim; meski begitu, ayat ini juga memberi gambaran tentang dampak dari suatu bencana besar, yang pernah terjadi pada masa lalu, yaitu banyak bangunan yang roboh, sumur-sumur menjadi tercemar, beberapa rumah yang masih berdiri namun sudah ditinggal pergi penghuninya. Gambaran ini merupakan gambaran umum dari dampak suatu bencana alam, seperti tsunami, gempa bumi, banjir bandang,  angin puting beliung, dan lain-lain.
Memang benar, jika kita lihat dari beberapa bencana yang ada, tidak semuanya sebagai akibat langsung dari ulah manusia. Namun, pernyataan wa hiya ♂ālimah semestinya harus dipandang sebagai sebab atas terjadinya bencana alam tersebut meski tidak langsung. Ini menjadi cukup penting dalam kaitannya dengan upaya penanggulangan bencana agar tepat dan komprehensif. Sehingga, bukan hanya mengandalkan pemulihan atau penanggulangan yang bersifat fisik, tetapi juga, tidak kalah pentingnya, melakukan perubahan dari sisi sikap mental.
Gerakan penghijauan, penanaman sejuta pohon, dan lainlain, tentu saja baik sekali. Namun, siapa yang menjamin kalau pohon-pohon tersebut pada saatnya nanti tidak dijarah kembali, kecuali secara sungguh-sungguh masing-masing individu menyadari bahwa perbuatannya tersebut akan menyengsarakan orang banyak dalam waktu yang akan datang. Atau hal ini menuntut keseriusan Pemerintah dalam “penegakan hukum”, terutama sekali terhadap adanya konspirasi busuk antara elit politik dan elit ekonomi. Sebab, kurangnya pengawasan mengakibatkan banyaknya aturan yang dilanggar. Lemahnya pengawasan di bidang pengusahaan hutan, misalnya, pada gilirannya akan banyak memunculkan semacam “mafia” perkayuan.
Semua ini terjadi karena ada jaringan kolusi yang rapi antara pengusaha, oknum birokrasi dan oknum keamanan. Sementara itu penduduk setempat yang peduli hutan tidak berdaya menghadapinya. Akibat lebih lanjut, penduduk setempat yang semula peduli dan mencintai hutan serta memiliki sikap moral yang tinggi terhadap lingkungan menjadi frustasi, bahkan kemudian sebagian dari mereka turut terlibat dalam proses illegal logging tersebut. Tanpa adanya pengawasan yang ketat dan penegakan hukum yang sungguh-sungguh, maka upaya apapun hanyalah sebuah kesia-siaan. Sebab, upaya penghijauan hanyalah solusi yang bersifat instant dan sesaat.
Oleh karena itu, pendidikan yang berbasis lingkungan, yang saat ini oleh para ahli dipandang sudah sangat mendesak untuk diajarkan pada anak-anak didik kita, seharusnya menyangkut dua hal, faktor-faktor lahiriah dan faktor-faktor rohaniah atau sikap mental.
Dengan demikian, sejak awal bukan saja mereka memiliki pengetahuan yang memadai tentang lingkungan hidup, kesadaran akan pentingnya manfaat hutan dan lingkungan hidup yang lestari untuk kehidupan semua makhluk, khususnya manusia generasi sekarang dan yang akan datang juga sebuah pemahaman agama, bahwa Allah adalah Maha Rahmān dan Rahim, Dia tidak mungkin mengazab makhluk-Nya apalagi dalam skala yang luas dan besar tanpa ada kesalahan sedikitpun. Wallāhu a‘lam bis-sawāb.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar