KERUSAKAN LINGKUNGAN
A. Pendahuluan
Sejak
semula Al-Qur'an telah menyatakan bahwa bumi dan seisinya diciptakan untuk
manusia. Artinya, bumi merupakan lingkungan yang disediakan oleh Allah untuk
manusia. Di lingkungan inilah manusia hidup, baik sebagai tempat tinggal,
mengembangkan keturunan, bahkan bersenang-senang sampai batas waktu yang telah
ditentukan. Di sisi lain, bumi sebagai lingkungan hidup manusia juga merupakan
satu kesatuan dari jalinan alam raya yang jauh lebih besar, yang dinyatakan
oleh Al-Qur'an tercipta atas asas keseimbangan. Oleh karena itu, posisi manusia
menjadi cukup penting dan strategis dalam rangka memelihara lingkungan hidupnya
demi kepentingan yang lebih besar, yaitu menjaga dan memelihara keseimbangan
alam raya tersebut.
Dalam
kaitan ini, Al-Qur'an menyatakan bahwa keberadaan manusia di bumi adalah
sebagai khalīfah. Term khalīfah yang makna hakikinya adalah “mengganti orang
lain dalam suatu pekerjaan”, yang dimaksudkan adalah bahwa manusia telah
dijadikan sebagai wakil Allah di muka bumi untuk mengatur, merawat, dan
memelihara bumi ini sebagaimana yang dikehendaki oleh-Nya. Tugas ini dibebankan
kepada manusia, karena manusialah
satu-satunya makhluk Allah yang layak untuk mengemban amanat ini.
B. Term-term
yang Terkait dengan Kerusakan Lingkungan dalam Al-Qur'an
Di
antara term-term dalam Al-Qur'an yang terkait langsung dengan kerusakan
lingkungan adalah term fasād. Term fasād dengan seluruh kata jadiannya di dalam
Al-Qur'an terulang sebanyak 50 kali, yang berarti ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻋﻦ ﺍﻹﻋﺘﺪﺍﻝ (sesuatu yang keluar
dari keseimbangan). Sementara cakupan makna term fasād ternyata cukup luas,
yaitu menyangkut jiwa/rohani, badan /fisik, dan apa saja yang menyimpang dari
keseimbangan/yang semestinya.
Term
fasād adalah antonim daris salah,
yang secara umum, keduanya terkait dengan sesuatu yang manfaat dan tidak
manfaat. Artinya, apa saja yang tidak membawa manfaat baik secara individu
maupun sosial masuk kategori fasād, begitu juga sebaliknya, apa pun yang
manfaat masuk kategori fasad.
Term fasād di dalam
Al-Qur'an dapat dibedakan menjadi:
1.
Perilaku menyimpang dan tidak bermanfaat
Sebagaimana dipahami dalam firman Allah berikut ini: Dan apabila dikatakan
kepada mereka, "Janganlah berbuat kerusakan di bumi!" Mereka
menjawab, "Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan
perbaikan." (al-Baqarah/2: 11) Yang dimaksud dengan fasād di sini bukan
berarti kerusakan benda, melainkan perilaku menyimpang, seperti menghasut
orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam. Paling tidak
term fasād di sini memiliki tiga pengertian yaitu: memperlihatkan perbuatan
maksiat, persekutuan antara orang-orang munafik dengan orang-orang kafir dan
sikap-sikap kemunafikan. Makna inilah yang terbanyak dari term fasād.
2.
Ketidakteraturan/berantakan Dapat dilihat pada firman Allah: Seandainya
pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu
keduanya telah binasa. Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka
sifatkan. (alAnbiyā'/21: 22) Term fasad di sini berarti tidak teratur. Artinya,
jika di alam raya terdapat Tuhan selain Allah, niscaya tidak akan teratur.
Padahal perjalanan matahari, bulan, bintang, dan miliyaran planet semua
berjalan secara teratur tidak tabrakan, maka pengaturnya pasti satu, itulah
Allah. Sehingga, ayat ini menunjukkan kemustahilan adanya Tuhan lebih dari
satu.
3.
Perilaku destruktif (merusak)
Dia
(Balqis) berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri,
mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina;
dan demikian yang akan mereka perbuat.” (an-Naml/27: 34) Kata ifsād di sini
berarti merusak apa saja yang ada, baik benda ataupun orang, baik dengan
membakar, merobohkan, maupun menjadikan mereka tidak berdaya dan kehilangan
kemuliaan.
4.
Menelantarkan atau tidak peduli Tentang
dunia dan akhirat. Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak-anak
yatim. Katakanlah, "Memperbaiki keadaan mereka adalah baik!" Dan jika
kamu mempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui
orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan. Dan jika Allah
menghendaki, niscaya Dia datangkan kesulitan kepadamu. Sungguh, Allah
Mahaperkasa, Mahabijaksana. (al-Baqarah/2: 220) Ayat di atas berbicara tentang
memerlakukan anak yatim. Bahwa seseorang harus memerlakukan anak yatim secara
baik demi masa depannya. Inilah yang dimaksud dengan term muslih. Dengan demikian kata mufsid, sebagai kebalikan dari mufsid berarti orang yang tidak peduli
terhadap nasib anak yatim, baik menelantarkannya maupun memanfaatkannya untuk
kepentingan dirinya sendiri.
5.
Kerusakan lingkungan Dalam hal ini bisa
dipahami dari firman Allah ini: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan
sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang
benar). (ar-Rūm/30: 40) Terkait dengan kerusakan di darat dan laut, terdapat
beberapa pendapat ulama antara lain: banjir besar, musim paceklik, kekurangan
air,10 kematian sia-sia, kebakaran, tenggelam, kezaliman, perilaku-perilaku
sesat, gagal panen, krisis ekonomi.
Dari
penjelasan secara deskriptif tentang term-term fasad, halaka, dan sa‘a, bisa
dijelaskan sebagai berikut; untuk term fasad, jika berbentuk masdar dan berdiri sendiri, maka
menunjukkan kerusakan yang bersifat hissi/fisik, seperti banjir, pencemaran
udara, dan lain-lain; dan jika berupa kata kerja (fi‘il) atau bentuk masdar namun sebelumnya ada kalimat
fi‘il, maka yang terbanyak adalah menunjukkan arti kerusakan yang bersifat non
fisik/ma‘nawi, seperti kafir, syirik, munafik, dan semisalnya.
Dengan
demikian, bisa dipahami bahwa kerusakan yang bersifat fisik pada hakikatnya
merupakan akibat dari kerusakan non fisik atau mental. Argumentasinya, bahwa
ayat-ayat yang bisa diidentifikasi sebagai yang menunjukkan makna kerusakan
lingkungan juga tidak secara spesifik dinyatakan sebagai akibat langsung dari
perilaku manusia, seperti illegal logging, pencemaran udara, dan lainlain. Dari
sini, bisa dilihat adanya korelasi positif antara kerusakan lingkungan dengan
rusaknya sikap mental atau keyakinan yang menyimpang.
Jika
demikian, kerusakan akidah yang dianggap sebagai sebab kerusakan lingkungan, mestinya
bukan diukur dari benar atau salahnya akidah seseorang, akan tetapi diukur dari
perilakunya. Atau bisa dipahami, bahwa perilaku menyimpang, merusak, dan tidak
bermanfaat sebenarnya menjadi cerminan rusaknya mental seseorang. Makanya,
Allah mendedikasikan untuk senantiasa menjaga bumi ini jika perilaku
penduduknya menceminkan seorang muslih—sebagai
antonim dari mufsid—yaitu senantiasa berusaha untuk mengembangkan kebajikan
yang bersifat sosial. Dengan kata lain, memiliki dampak secara nyata dalam kehidupan
kemanusiaan dan lingkungan hidup secara umum.
C.
Pengertian Bencana Alam & Macam-Macamnya
Indonesia
memang tidak terlepas dengan bahayanya bencana alam dikaenakan letaknya.
Bencana alam dalam bentuk apapun tentunya akan berakibat buruk bagi kita.
Masalah ini sudah menjadi topik yang patut diwaspadai pada jama ini, karena
berbagai bencana alam akan terus menerus datang tanpa kita sadari.
Walaupun
manusia dapat memprediksi kapan terjadinya bencana, tetapi tidak akan bisa menghentikan
bencana itu. Walaupun bisa memperkecil korban jiwa, tetapi kerugian yang
diderita amatlah besar. Kita sebagai manusia hanya bisa menghindari, tetapi
tidak dapat menghentikan terjadinya bencana alam, sekuat apapun manusia
tersebut.
Pengertian/Definisi
Bencana Alam
Bencana alam adalah
suatu kejadian/peristiwa alam yang dampaknya dapat mengakibatkan populasi
manusia terancam. Peristiwa alam tersebut dapat berupa gempa, letusan gunung
berapi, banjir, tsunami, tanah longsor, angin topan/angin puting beliung,
kebakaran hutan, kekeringan, dan lain-lain.
Walaupun bencana alam tersebut sudah
biasa terjadi di Bumi kita ini, tetapi kita tidak bisa menghentikannya, kita
hanya dapat memperkecil dampak bencana yang terjadi.
Bencana alam adalah rangkaian peristiwa
yang disebabkan oleh alam.
Jenis-jenis
Bencana Alam
Ø Bencana
alam meteorologi
Bencana alam meteorologi/hidrometeorologi merupakan
bencana alam yang berhubungan dengan iklim. Bencana alam ini umumnya tidak
terjadi pada suatu tempat yang khusus. Bencana alam bersifat meteorologis
paling banyak terjadi diseluruh dunia seperti banjir dan kekeringan.
Kekhawatiran terbesar pada masa modernisasi sekarang ini adalah terjadinya
pemanasan global.
Ø Bencana alam
geologi
Bencana alam geologi
adalah bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti tsunami, gempa bumi,
gunung meletus, dan tanah longsor. Contoh bencana alam geologi paling umum
adalah gempa bumi, tsunami, gunung meletus dan tanah longsor.
Ø Bencana alam
ekstra-terestial
Bencana alam
ekstra-terestial merupakan bencana alam yang terjadi di luar angkasa. Bencana
dari luar angkasa adalah datangnya berbagai benda langit seperti asteroid atau
gangguan badai matahari. Meskipun dampaknya berukuran kecil tidak berpengaruh
besar, asteroid kecil tersebut berjumlah sangat banyak sehingga bisa
menimbulkan untuk menabrak bumi.
Macam-macam
Bencana Alam
1. Banjir
Banjir adalah
bencana alam yang diakibatkan oleh curah hujan yang cukup tinggi dengan tidak
diimbangi dengan saluran-saluran pembuangan air yang memadai, sehingga banjir
dapat merendam berbagai wilayah-wilayah yang cukup luas.
Pada umumnya banjir terjadi karena luapan sungai yang tidak mampu menghadang derasnya air yang datang sehingga menyebabkan jebolnya sistem perairan disuatu daerah.
Banjir juga diakibatkan oleh manusia itu sendiri karena membuang sampah sembarangan ke saluran-saluran pembuangan air dan menebang pohong-pohon secara liar, pohon bermanfaat sebagai penyerap air dikala datangnya hujan.
Pada umumnya banjir terjadi karena luapan sungai yang tidak mampu menghadang derasnya air yang datang sehingga menyebabkan jebolnya sistem perairan disuatu daerah.
Banjir juga diakibatkan oleh manusia itu sendiri karena membuang sampah sembarangan ke saluran-saluran pembuangan air dan menebang pohong-pohon secara liar, pohon bermanfaat sebagai penyerap air dikala datangnya hujan.
2. Gempa Bumi
Gempa bumi
adalah guncangan atau getaran yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan
energi dari dalam secara tiba-tiba lalu menciptakan gelombang seismik. Gempa
bumi biasanya disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi).
Gempa bumi diukur dengan menggunakan alat yang bernama Seismometer. Moment Magnitudo adalah skala yang paling umum di mana gempa bumi terjadi untuk seluruh dunia. Skala Rickter adalah skala besarnya lokal 5 magnitude.
Biasanya gempa bumi terjadi pada daerah-daerah yang dekat dengan patahan lempengan bumi. Gempa adalah bencana alam yang tidak dapat diperkirakan, oleh karena itu gempa merupakan bencana alam yang sangat berbahaya. Ada berbagai cara untuk mengurangi kerugian akibat dampak gempa bumi, seperti membangun bangunan yang dapat meredam getaran gempa, memperkuat pondasi bangunan dan masih banyak yang lain.
Gempa bumi diukur dengan menggunakan alat yang bernama Seismometer. Moment Magnitudo adalah skala yang paling umum di mana gempa bumi terjadi untuk seluruh dunia. Skala Rickter adalah skala besarnya lokal 5 magnitude.
Biasanya gempa bumi terjadi pada daerah-daerah yang dekat dengan patahan lempengan bumi. Gempa adalah bencana alam yang tidak dapat diperkirakan, oleh karena itu gempa merupakan bencana alam yang sangat berbahaya. Ada berbagai cara untuk mengurangi kerugian akibat dampak gempa bumi, seperti membangun bangunan yang dapat meredam getaran gempa, memperkuat pondasi bangunan dan masih banyak yang lain.
3. Gunung
Meletus
Gunung meletus
bisa terjadi karena endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh
gas yang bertekanan tinggi. Dari letusan-letusan seperti itulah gunung berapi
bisa terbentuk. Letusan gunung berapi bisa merenggut korban jiwa dan
menghabiskan harta benda yang besar.
Gunung meletus merupakan salah satu bencana alam yang sangat dahsyat karena diakibatkan meningkatnya aktivitas magma yang ada dalam perut bumi. Jika gunung akan meletus maka dapat dideteksi dengan cara melihat aktivitas perkembangannya, mulai dari siaga, waspada, awas dan hingga puncaknya yaitu meletus. Ketika suatu gunung meletus maka akan mengeluarkan berbagai macam material-material yang ada di dalam bumi, mulai dari debu, batu, kerikil, awan panas, kerikil hingga magmanya.
Karena waktu terjadinya gunung meletus dapat diprediksi, maka bisa diberi peringatan kepada warga agar segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. Magma adalah cairan panas yang keluar dari dalam perut bumi dengan suhu yang sangat tinggi, diperkirakan lebih dari 1000 derajat celcius. Magma yang sudah keluar dalam perut bumi disebut lava.
Gunung meletus ternyata berdampak baik bagi masyarakat, karena 1–2 bulan setelah terjadinya bencana tumbuh-tumbuhan menjadi lebih subur, karena debu dan material-material yang dikeluarkan memiliki zat hara yang sangat tinggi.
Gunung meletus merupakan salah satu bencana alam yang sangat dahsyat karena diakibatkan meningkatnya aktivitas magma yang ada dalam perut bumi. Jika gunung akan meletus maka dapat dideteksi dengan cara melihat aktivitas perkembangannya, mulai dari siaga, waspada, awas dan hingga puncaknya yaitu meletus. Ketika suatu gunung meletus maka akan mengeluarkan berbagai macam material-material yang ada di dalam bumi, mulai dari debu, batu, kerikil, awan panas, kerikil hingga magmanya.
Karena waktu terjadinya gunung meletus dapat diprediksi, maka bisa diberi peringatan kepada warga agar segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. Magma adalah cairan panas yang keluar dari dalam perut bumi dengan suhu yang sangat tinggi, diperkirakan lebih dari 1000 derajat celcius. Magma yang sudah keluar dalam perut bumi disebut lava.
Gunung meletus ternyata berdampak baik bagi masyarakat, karena 1–2 bulan setelah terjadinya bencana tumbuh-tumbuhan menjadi lebih subur, karena debu dan material-material yang dikeluarkan memiliki zat hara yang sangat tinggi.
4. Tsunami
Tsunami secara
harfiah berarti “ombak besar di pelabuhan” adalah perpindahan badan air yang
disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan
mendadak/tiba-tiba. Perubahan permukaan laut terjadi karena disebabkan oleh
gempa bumi yang berada di bawah laut, letusan gunung berapi di bawah laut,
longsor bawah laut, atau hantaman meteor di laut.
Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang, tsu berarti pelabuhan, dan nami berarti gelombang. Bencana ini termasuk yang paling berbahaya karena tidak dapat diprediksi kapan terjadinya dan sulit untuk mencegah datangnya tsunami dengna kecepatan tinggi.
Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang, tsu berarti pelabuhan, dan nami berarti gelombang. Bencana ini termasuk yang paling berbahaya karena tidak dapat diprediksi kapan terjadinya dan sulit untuk mencegah datangnya tsunami dengna kecepatan tinggi.
5. Tanah
longsor
Longsor atau disebut
juga gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi yang terjadi karena
pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti
jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Secara umum longsor bisa terjadi
disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu. Faktor
pendorong adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi material itu sendiri,
sedangkan faktor pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material
tersebut.
Bencana longsor terjadi karena setelah hujan yang cukup lebat dan tanah tersebut tidak sama sekali ditumbuhi tanaman maka terjadilah longsor itu. Tanaman berguna untuk menahan tanah-tanah agar tidak mudah longsor atau terseret.
Ada juga bencana longsor yang terjadi secara alami, karena memang tanah yang kurang padat, curah hujan yang cukup tinggi dan kemiringan yang cukup curam.
Bencana longsor terjadi karena setelah hujan yang cukup lebat dan tanah tersebut tidak sama sekali ditumbuhi tanaman maka terjadilah longsor itu. Tanaman berguna untuk menahan tanah-tanah agar tidak mudah longsor atau terseret.
Ada juga bencana longsor yang terjadi secara alami, karena memang tanah yang kurang padat, curah hujan yang cukup tinggi dan kemiringan yang cukup curam.
6. Kebakaran
hutan liar
Kebakaran
hutan terjadi bisa dikaitkan oleh alam itu sendiri, bisa juga dikaitkan oleh
ulah tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Jika kebakaran hutan
sampai terjadi maka cukup sulit untuk memadamkannya, karena luasnya daerah yang
terbakar dan lokasinya yang jauh dari tempat penanggulangan bencana. Bahaya
yang timbul karena kebakaran hutan adalah asap yang dihasilkan dapat merusak pernapasan.
Kebakaran hutan secara liar adalah kebakaran yang terjadi di alam liar. Jika bencana tersebut disebabkan oleh alam itu sendiri, kemungkinan karena petir yang menyambar. Jika ulah manusia, maka bisa dipastikan karena keserakahan manusia dalam membuka lahan tanpa melihat akibat yang ditimbulkan.
Kebakaran hutan secara liar adalah kebakaran yang terjadi di alam liar. Jika bencana tersebut disebabkan oleh alam itu sendiri, kemungkinan karena petir yang menyambar. Jika ulah manusia, maka bisa dipastikan karena keserakahan manusia dalam membuka lahan tanpa melihat akibat yang ditimbulkan.
7. Angin
Topan/Angin puting beliung
Angin puting
beliung merupakan angin yang berputar dengan kecepatan yang amat tinggi dan
bergerak secara garis lurus dengan durasi maksimal 5 menit. Di Indonesia
bencana ini biasa disebut dengan puting beliung atau angin lesus, tetapi jika
di Amerika disebut Tornado.
Bencana angin puting beliung belum dapat diprediksi karena teknologi yang kurang memadai. Tetapi jika di Amerika bencana topan sudah dapat diprediksi kapan terjadinya dan dimana tempatnya sehingga dapat menghimbau warga agar segera untuk mengungsi.
Bencana angin puting beliung belum dapat diprediksi karena teknologi yang kurang memadai. Tetapi jika di Amerika bencana topan sudah dapat diprediksi kapan terjadinya dan dimana tempatnya sehingga dapat menghimbau warga agar segera untuk mengungsi.
8. Kekeringan
Kekeringan
adalah keadaan kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam masa yang amat
berkepanjangan (berbulan-bulan hingga bertahun-tahun). Biasanya bencana ini
terjadi bila suatu wilayah secara terus-menerus mengalami curah hujan di bawah
rata-rata. Musim kemarau yang panjang akan menyebabkan kekeringan karena
cadangan air tanah akan habis akibat penguapan (evaporasi), transpirasi,
ataupun penggunaan manusia yang lainnya.
Bencana ini hampir tiap tahun terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, bencana ini sudah umum terjadi pada negara yang lain di dunia.
Bencana ini hampir tiap tahun terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, bencana ini sudah umum terjadi pada negara yang lain di dunia.
D.
Sebab-sebab Terjadinya Kerusakan Lingkungan
Secara umum, terjadinya degradasi lingkungan hidup (LH)
ada dua penyebab yaitu penyebab yang bersifat langsung dan tidak langsung.
Faktor penyebab yang tidak langsung pada kenyataannya merupakan penyebab yang
sangat dominan terhadap kerusakan lingkungan. Artinya rusaknya ekosistem dalam
hal ini manusia tidak memiliki peran misalnya gunung meletus, gempa bumi,
tsunami, dan lain-lain. Sedangkan yang bersifat langsung terbatas ulah manusia
yang terpaksa mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan karena desakan
kebutuhan, keserakahan, atau mungkin kekurangsadaran akan pentingnya menjaga
lingkungan misalnya menebang hutan secara illegal, membuang sampah sembarangan,
membendung aliran sungai sehingga menciut, dan lain-lain.
Namun, jika kita analisis lebih jauh tentang ayat-ayat
Al-Qur'an yang terkait dengan alam raya, maka akan ditemukan penjelasan bahwa
alam raya ini diciptakan dan diatur oleh Allah atas asas keseimbangan.
Perjalanan alam raya selamanya tidak akan menyimpang dari ketetapan yang telah
ditentukan. Inilah yang dinyatakan oleh Al-Qur'an sebagai takdir. Bahkan,
Al-Qur'an juga menegaskan bahwa di balik keteraturan alam raya, ia ditundukkan
(taskhir) untuk kepentingan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan dan juga
keinginannya. Misalnya perjalanan matahari, pergantian malam dan siang,
turunnya hujan, keberadaan gunung, laut, dan lain-lain. Atau dengan kata lain,
ketika Al-Qur'an menjelaskan tentang hujan, pasti disertai dengan menyebutkan
manfaatnya; dan memang tidak ada satu ayat pun yang secara tegas menyatakan
bahwa hujan akan menyebabkan banjir. Demikian ini, karena hujan merupakan
kejadian alamiah biasa, sebagaimana musim kemarau. Justru ia
akan membuat
tanah menjadi subur. Namun persoalannya akan lain, jika hujan kemudian
menyebabkan banjir, sebab itu pasti ada faktor lain.
Begitu juga lautan, matahari, dan lain-lain, semuanya
ditundukkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Ilmu pengetahuan
mungkin bisa menganalisa sebabsebab terjadinya hujan, tetapi ilmu pengetahuan
tidak bisa membatasi atau mengatur vomule air yang diturunkan, agar tidak
menyebabkan banjir. Begitu juga tsunami, gunung meletus, gempa bumi, ilmu
pengetahuan hanya bisa mempelajari setelah terjadi; atau paling tidak mendeteksi
gerakangerakan yang terlihat tidak wajar; ilmu pengetahuan tidak mampu melawan,
mencegah, atau memastikan secara matematis melalui hukum sebab akibat kenapa
dan kapan bencana alam itu terjadi?
Oleh karenanya, jika terjadi kerusakan alam atau
penyimpangan alam dari ketentuan yang ada, termasuk bencanabencana alam yang
kita persepsikan sebagai fenomena alam semata, tentunya harus diyakini sebagai
akibat dari pebuatan manusia, langsung maupun tidak langsung. Sebab, jika
bencana alam dikatakan sebagai “fenomena alam yang terjadi secara alamiah”,
justru ini tidak sesuai dengan ketentuan Allah atas alam semesta yang sejak
awal telah ditetapkan untuk kepentingan atau ditundukkan untuk memenuhi
kebutuhan manusia. Begitu juga, jika bencana alam dikatakan sebagai “takdir
Tuhan”, maka hal itu juga tidak sesuai dengan sifat Allah, terutama ar-Rahmān
dan ar-Rahim. Sebab Allah tidak mungkin menurunkan bencana apalagi berskala
besar dan luas tanpa kesalahan atau penduduknya muslih (perilaku sosialnya baik)
E. Epilog
Di
dalam Al-Qur'an ditemukan sebuah ayat yang menggambarkan akibat yang bersifat
fisik dari adanya bencana alam, misalnya firman Allah: Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena
(penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur
yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (tidak ada penghuninya). Maka
tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat
memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta,
tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.
(al-hajj/22: 45-46)
Ayat
ini sebenarnya memberi informasi tentang akhir perjalanan suatu kaum yang
zalim; meski begitu, ayat ini juga memberi gambaran tentang dampak dari suatu
bencana besar, yang pernah terjadi pada masa lalu, yaitu banyak bangunan yang
roboh, sumur-sumur menjadi tercemar, beberapa rumah yang masih berdiri namun
sudah ditinggal pergi penghuninya. Gambaran ini merupakan gambaran umum dari
dampak suatu bencana alam, seperti tsunami, gempa bumi, banjir bandang, angin puting beliung, dan lain-lain.
Memang
benar, jika kita lihat dari beberapa bencana yang ada, tidak semuanya sebagai
akibat langsung dari ulah manusia. Namun, pernyataan wa hiya ♂ālimah semestinya
harus dipandang sebagai sebab atas terjadinya bencana alam tersebut meski tidak
langsung. Ini menjadi cukup penting dalam kaitannya dengan upaya penanggulangan
bencana agar tepat dan komprehensif. Sehingga, bukan hanya mengandalkan
pemulihan atau penanggulangan yang bersifat fisik, tetapi juga, tidak kalah
pentingnya, melakukan perubahan dari sisi sikap mental.
Gerakan
penghijauan, penanaman sejuta pohon, dan lainlain, tentu saja baik sekali.
Namun, siapa yang menjamin kalau pohon-pohon tersebut pada saatnya nanti tidak
dijarah kembali, kecuali secara sungguh-sungguh masing-masing individu
menyadari bahwa perbuatannya tersebut akan menyengsarakan orang banyak dalam
waktu yang akan datang. Atau hal ini menuntut keseriusan Pemerintah dalam
“penegakan hukum”, terutama sekali terhadap adanya konspirasi busuk antara elit
politik dan elit ekonomi. Sebab, kurangnya pengawasan mengakibatkan banyaknya
aturan yang dilanggar. Lemahnya pengawasan di bidang pengusahaan hutan,
misalnya, pada gilirannya akan banyak memunculkan semacam “mafia” perkayuan.
Semua
ini terjadi karena ada jaringan kolusi yang rapi antara pengusaha, oknum
birokrasi dan oknum keamanan. Sementara itu penduduk setempat yang peduli hutan
tidak berdaya menghadapinya. Akibat lebih lanjut, penduduk setempat yang semula
peduli dan mencintai hutan serta memiliki sikap moral yang tinggi terhadap
lingkungan menjadi frustasi, bahkan kemudian sebagian dari mereka turut
terlibat dalam proses illegal logging tersebut. Tanpa adanya pengawasan yang
ketat dan penegakan hukum yang sungguh-sungguh, maka upaya apapun hanyalah
sebuah kesia-siaan. Sebab, upaya penghijauan hanyalah solusi yang bersifat
instant dan sesaat.
Oleh
karena itu, pendidikan yang berbasis lingkungan, yang saat ini oleh para ahli
dipandang sudah sangat mendesak untuk diajarkan pada anak-anak didik kita,
seharusnya menyangkut dua hal, faktor-faktor lahiriah dan faktor-faktor
rohaniah atau sikap mental.
Dengan
demikian, sejak awal bukan saja mereka memiliki pengetahuan yang memadai
tentang lingkungan hidup, kesadaran akan pentingnya manfaat hutan dan
lingkungan hidup yang lestari untuk kehidupan semua makhluk, khususnya manusia
generasi sekarang dan yang akan datang juga sebuah pemahaman agama, bahwa Allah
adalah Maha Rahmān dan Rahim, Dia tidak mungkin mengazab makhluk-Nya apalagi
dalam skala yang luas dan besar tanpa ada kesalahan sedikitpun. Wallāhu a‘lam bis-sawāb.